Sesungguhnya seorang pecinta, kepada orang yang dicintainya akan selalu ta'at setia."
Senin, 19 September 2011
By: Ahmad Midya’udin.S.Ag
“ Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri
kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat
keberuntungan.” (Q.S. Al-Maidah :35)
Adalah
suatu fatwa yang menghebohkan dunia Islam dari Ibnu Taimiyah (661H) dan
Muhammad bin Abdul Wahab (1702M-1787M) ialah menghukum kafir atau syirik bagi
yang mendoa dengan bertawassul, padahal mendoa dengan bertawassul itu sudah
dikerjakan oleh dunia Islam sejak abad permulaan Islam, sedari zaman Nabi ,
zaman Shahabat, dan Thabi’in.
Marilah kita
tinjau masalah ini dengan tenang dan ilmiah. “Tawassul “, artinya mengerjakan
sesuatu amal yang dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Di dalam Al-qur’an ada
tersebut perkataan “Wasilah” dalam dua tempat :
1.
Pada surat
al-Maidah ayat 35 tersebut di atas.
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat
keberuntungan.”
Di dalam surat ini ada 3 hukum yang dikeluarkan :
a.
Kita wajib patuh(ta’at) kepada Tuhan
b.
Kita disuruh mencari jalan yang mendekatkan diri kepada
Tuhan
c.
Kita disuruh berjuang di jalan Allah.
2.
Pada surah Isra’ :
“
orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan
mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan
rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang
(harus) ditakuti.” (Q.S.al-Isra’:57)
Demikian arti wasilah dalam al-qur’an.
Maka mendoa dengan bertawassul ialah
mendo’a kepada Tuhan, sekali lagi kepada
Tuhan dengan wasilah yaitu memperingatkan sesuatu yang dikasihi Allah.
Sekarang
marilah kta simak dalil-dalil yang menunjukkan (membolehkan) kita untuk berdoa
dengan bertawasul berdasarkan dalil-dalil dari al-qur’an maupun hadits shahih.
Daalil ke 1
64. dan Kami tidak mengutus
seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya
Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun
kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati
Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Dengan perkataan lain ayat ini dapat
diartikan, bahwa setiap orang yg telah berbuat dosa, kalo mereka datang kepada
Nabi Muhammad Saw (pada ketika beliau hidup atau sudah wafat) dan minta ampun
kepada Allah dihadapan Nabi dan Nabi memintakan ampun pula untuk orang itu ,
niscahya permohonannya dikabulkan Tuhan.
Dalil ke 2:
Artinya : “ Dari shahabat Nabi Anas (bin
Malik) , bahwasanya Saidina Umar Rda. Adalah apabila kemarau , beliau minta
hujan dengan Abbas bin Abdul Muthalib( paman Nabi), Umar berkata dalam doanya :
Ya Allah, bahwasanya kami telah bertawasul kepada Engkau dengan Nabi kami ,
maka Engkau turunkan hujan , dan sekarang kami tawasul kepada Engkau dengan
paman Nabi kami , mak turunkanlah hujan”. (Shahih Bukhori jilid I, halaman 128
dlm kitab Fathul barri (syarah Bukhori)pada jilid III, halaman 150).
Dalil ke 3:
Artinya :” Dari utsman bin Hunaif,
bahwasanya seorang laki-laki cacat buta datang kepada Nabi Muhammad Saw. Maka
ia berkata: Hai Rosulullah, tolong mintakan kepada Tuhan agar ia menyehatkan
saya, maka Nabi menjawab : Kalu engkau suka boleh mendoa, kalau engkau suka
boleh bersabar dan itulah yang terbaik. Orang itu mendesak supaya dido’akan,
lalu Nabi menyuruh ia berwudlu dengan baik dan mendoa denga doa ini : “Ya Allah
saya mohon kepada Engkau dan saya menghadap kepada Engkau dengan Nabi Engkau, Muhammad Saw, Nabi rahmat
(Hai Muhammad) saya menghadap dengan engkau kepada Tuhanku untuk supaya ia menerima
permohonanku, Ya, Allah berilah Syafa’at bveliau pada saya”. (H.R. Tirmidzi dan
Ibnu Majah-Shahih Tirmidzi XIII, halaman 80-81-Sunan Ibnu Majah I, halaman
418-419)
Dalil ke 4:
“Barangsiapa menziarahi makam saya, ia
pasti mendapat syafa’at saya “
(Hadist riwayat Imam Daruquthni)
Dalil ke 5:
Artinya : “Ketika Fatimah
binti Asad meninggal dunia, Rosulullah masuk ke tempatnya, lalu duduk di
samping kepalanya dan bersabda :” Semoga Allah merahmatimu, wahai ibu setelah
ibuku”. Kemudian beliau memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub dan Umar bin Khattabserta
budak hitam untuk menggaali tanah bagi makamnya , ketika mereka telah menggali
sampai batasnya, Rosulullah menggali lahatnya, dan beliau mengeluarkan tanah
dengan tangannya sendiri lalu beliau
berbaring dikuburnbya dan berdoa:” Tuhan
yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia sendiri hidup, tiada akan mati. Ya
Allah, ampunilah ibuku, Fatimah binti Asad dnl luaskanlah tempatnya dengan
perantara Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelum aku”.(H.R. Thabrany / Kasyf
al-Irtiyab, hal.312, nukilan dari Khulashah al Kalam)
Dalil ke 6:
Sayyidus Syuhada, Husein bin Ali, dalam do’a Arafah-nya berkata : “ Ya Allah, aku
menghadap kepada-Mu saat ini, saat yang telah Engkau agungkan, dengan perantara
Muhammad Nabi-Mu dan utusan-Mu serta makhluk-Mu yang terbaik…” (Mafatih al
Jinan, do’a Arafah)
Dalil ke 7:
Sabda Rosulullah: “"Jika
kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian
bershalawatlah untukku. Karena se-sungguhnya barangsiapa yang bershalawat
untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian
mohonkanlah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya ia ada-lah suatu tempat
(derajat) di Surga. Ia tidak pantas kecuali untuk seorang hamba dari
hamba-hamba Allah. Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku. Barangsiapa memintakan
wasilah untukku, maka ia berhak menerima syafa'atku." (HR. Muslim)
Dalil ke 8 :
"Ya
Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini. Dan shalat yang akan
didirikan. Berikanlah untuk Muhammad wasilah (derajat) dan keutamaan. Dan
tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan."
(HR. Al-Bukhari)
Dalil ke 9:
Sabda Rosulullah :"Setiap do'a akan
terhalang, sehingga disertai bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
Salam ." (HR. AI-Baihaqi, hadits hasan)
Dalil ke 10:
Dengan penjelasan2 di atas kiranya
cukuplah untuk kita fahami tentang tawassul meski sebenarnya masih banyak
riwayat-riwayat hadist tentang tawassul. Namun yang perlu diingat jika kita
tidak sepaham dengan saudara kita seiman janganlah lantas kita segera
menfonisnya dengan kata2 kafir atau musyrik , tapi alangkah lebih baiknya kalau
kita telaah dulu dan cari/tanyakan alasan2nya kenapa mereka berbeda dng faham kita.
Sabda Rosulullah :
“Shabat Nabi Ibnu Umar Rda, berkata : Bersabda Rosulullah Saw : Manakala berkata
seseorang kepada saudaranya “hai kafir” , maka ia telah menetapkan (denga
ucapannya itu) salah seorang dianttaranya menjadi kafir. Kalau orang itu memang
kafir (pada hakikatnya) iyalah begitu, tapi kalau orang itu (pada hakekatnya
tidak kafir), maka kembali”kafir” itu kepada yang berkata” (HSR. Muslim-Shahih
Muslim juz 1 halaman 44).
"Jika kecintaanmu itu sejati,niscaya engkau akan
menta'atinya.
Sesungguhnya seorang pecinta, kepada orang yang dicintainya akan selalu ta'at setia."
Sesungguhnya seorang pecinta, kepada orang yang dicintainya akan selalu ta'at setia."
Wallahu A’lam….
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar