By:
A. Midya’udin. S.AgSenin, 19 September 2011
By:
A. Midya’udin. S.Ag
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya.
memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan
kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Qs. Al-A’raf :157)
Setiap tahun, peringatan Maulid Nabi Muhammad saw
Diperingati oleh hampir seluruh kaum
Muslimin di belahan bumi. Kegiatan ini sudah berkembang sejak ratusan
tahun
Silam. Benarkah ini tradisi Islam ?
Diantara Hari
Besar Islam yang nyaris dirayakan setiap tahun oleh kaum Muslimin adalah
perayaan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Perayaan yang digelar setiap
tanggal 12 Rabiul awal ini, pertama kali diperkenalkan oleh penguasa Dinasti Fatimiyah (909 – 117). Kala itu
, peringatan Maulid Nabi masih taraf uji coba.
Pada dekade berikutnya, kegiatan itu
berubah menjadi perayaan besar yang diselenggarakan hampir di setiap kawasan
Islam. Pelopornya, Abu Sa’id al-Kokburi,
Gubernur wilayah Irbil
pada masa pemerintahan Sultan
Shalahuddin al Ayyubi. Tujuan utamanya untuk memperkokoh semangat keagamaan
umat Islam yang sedang menghadapi ancaman serangan tentara Salib. Gagasan
Al-Kokburi sangat efektif. Dengan memutar kembali sejarah perjuangan
Rosulullah, semangat mereka bangkit sehingga mampu memukul mundur pasukan
Salib.
Al-Suyuthi, seorang Ulama madzhab Syafi’I, mendukung perayaan ini.
Dalam kitab Husnu al-Maqsid fi ‘amal
al-Maulid, ia mengatakan bahwa kegiatan seperti ini mengandung kebaikan
karena mengagungkan Nabi saw. Sebagaimana Allah telah memerintahkan kepada
beliau untuk mengagungkannya . Firman :
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229].
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah
salam penghormatan kepadanya”
(QS. Al-Ahzab:56)
SabdaRosulullahsaw: “Tidak
sempurna iman seseorang diantara kamu, sehingga aku lebih dicintai daripada
anak, orang tua, dan umat manusia seluruhnya,”(HR. Muslim)
Para shahabat telah memberikan contoh konkret seberapa
besarnya dan bagaimana memberikan cinta kepada Rosulullah saw. Pada suatu
kesempatan , Umar bin Khatab berkata kepada Rosulullah :”Wahai Rosulullah, demi
Allah engkau lebih saya cintai daripada segala sesuatu kecuali diri saya”.
Rosulullah menjawab:”Tidak!’Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga
engkau mencintaiku melebihi cintamu kepada dirimu sendiri.” Umar menjawab
:”Mulai saat ini, Demi Allah, engkau lebih aku cintai lebih aku mencintai
diriku sendiri.” Jawab Rusulullah:”Sekarang(baru benar) wahai Umar,”(HR. Bukhori)
Pendapat
As-Suyuthi ini diamini oleh Ibnu Hajar al-Haitami dan Abu Samah, menurut kedua fuqoha ini
peringatan Maulid Nabi merupakan perbuatanm baru yang paling terpuji, syaratnya,
asal disertai dengan kegiatan kemasyarakatan yang baik seperti shadaqah, infaq,
ceramah, serta kegiatan lainnya yang bernilai ‘ibadah.
Namun, ada juga yang menolak perayaan
Maulid ini, antara lain al-Fakihin.
Secara eksplisit dalam kitabnya al-Maurid fi Kalam al-Maulid, pengikut
madzhab Maliki ini menegaskan, tidak ada landasan yang bisa dijadikan dalil
untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Pendapatnya ini dilandaskan hadits
Rosulullah,”Setiap yang baru (yang tidak ada dalam al-Qur’an dan al-Hadist)
adalah bid’ah. Setiap bid’ah itu sesat. Setiap sesat berada dalam neraka”. Ibnu al-Hajj mendukung pendapat ini,
dalam kitabnya al-Madkhal, ia mengecam kegiatan ini, menurutnya , sering
melibatkan aktivitas hiburan, dan tidak lagi berfungsi sebagai media untuk
mengagungkan Rosulullah, tetapi menjadi media melakukan perbuatan maksiat.
Kedua pandangan ini sebenarnya memiliki
titik temu. Karena yang menjadi masalah adalah muatan dari kegiatan itu
sendiri, apakah diisi dengan kegiatan ‘ibadah atau justru mengelar
kegiatan-kegiatan bid’ah sehingga menghilangkan esensi luhur peringatan yang
sebenarnya. Di Indonesia, umumnya yang tidak sependapat dengan kegiatan ini
mengarahkan kritikan mereka tentang tradisi membaca tiga kitab maulid, yang
dilakukan kalangan pesantren, yaitu kitab al-Barjanzi,
al-Diba’I, al-Burdah. Kitab yang dipakai dalam kajian ini umumnya adalah Madarij al-Su’ud ila Iktisab al-Burud,
karangan Muhammad ibnu Umar Al-Bantani.
Alasan mereka membaca kitab-kitab tersebut karena melanggar batas pujian yang
telah ditentukan syari’ah, menurut mereka, materi pujian yang ada dalam kitab
tersebut menggambarkan Nabi sebagai pemberi syafa’at, ampunan, dan keselamatan.
Perbuatan itu termasuk syirik karena menempatkan Nabi sebagai pemberi syafa’at,
keselamatan, dan ampunan, yang mestinya hak mutlak Allah semata.
.
Pujian yang terangkum dalam kitab maulid
itu, walaupun disajikan dengan ungkapan bahasa yang dipenuhi metafor dan
simbol, tetapi tidak sampai mengangkat derajat kemanusiaan Nabi Muhammad saw
sampai ke tingkat Tuhan. Bahkan Al-Busairi,
pengarang al-Burdah sendiri,
mengecam mereka yang memuji Nabi sampai menghilangkan dimensi kemanusiaan-nya.
Ia mengutip hadits Rosulullah yang berbunyi :
“Janganlah engkau memberikan pujian padaku
sampai melewati batas, sebagaimana pujian yang diberikan orang Nasrani kepada
Isa”
Pendek kata, para Ulama mengkritik perayaan
maulid, pada umumnya keberatan dengan aktivitas hiburan yang sering menyertai
kegiatan tersebut, seperti pasar malam, panggung gembira, pemutaran filem,
gelar wayang, pertandingan olah raga, memandikan benda-benda pusaka, dan
seabrek atraksi hiburan lainnya yang mencampur adukan antara pria dan wanita.
Kegiatan-kegiatan seperti itulah yang
menyebabkan ulama seperti Ibnu al-Hajj
dan kawan-kawan mengecam peringatan Maulid. Seandainya acara itu tidak disertai
dengan unsur hiburan yang bisa menghilangan substansi dan tujuan utamanya itu
sendiri, mereka tidak mempermasalahkan.
Akhirnya, segala pro dan kotra tersebut bisa
dikompromikan. Peringatan maulid boleh-boleh saja dilaksanakan dengan tujuan
merefleksikan kembali kehidupan Rosulullah secara benar dan tidak mengenggapnya
sebagai bid’ah yang dilarang agama, disamping itu acara tersebut
diselenggarakan hendaklah bersih dari segala unsur hiburan berbau syirik dan
maksiat, yang bisa mengubah maksud dan tujuan perigatan itu sendiri. Wallahu
A’lam….
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar